Zeilla Mutia Devi

CARA BERHENTI DARI KRIM DOKTER

/

Pertama kali aku pergi ke klinik dokter kecantikan itu saat aku masih kuliah. Aku pergi ke E**a Clinic di bilangan Kelapa Gading karena dekat rumah. Awalnya sih karena ikut-ikutan Ibu, tapi ada alasan lain yaitu karena aku ngerasa kulit agak kusam. Berawal dari sini aku menjalani perawatan dokter sekitar 2 tahunan dengan tujuan agar kulit terlihat lebih cerah. Tapi, aku gak rajin kontrol karena jadwal kuliah yang sering berbenturan dengan jadwal jaga dokter kulit ku. Akhirnya, jadwal kontrol suka molor-molor.

Sudah hampir dua tahun ini aku lepas dari krim dokter. Alasannya karena aku ingin memulai journey dengan skincare non dokter. I think it’s more fun dan aku akan lebih mengenal kulit ku sendiri ketimbang saat pergi ke klinik.

Baca jugaKrim Dokter Bikin Ketergantungan?

Setelah memutuskan untuk berhenti dari krim dokter, aku punya beberapa pengalaman buruk. Yang paling aku ingat adalah jerawatan! Aku bukan termasuk orang yang mudah jerawatan karena tipe kulit ku bukan acne prone. Tapi, karena tipe kulit ku oily otomatis kemungkinan untuk jerawatan jadi semakin besar.

Ditambah lagi kulit ku menjadi semakin sensitif akibat krim dokter. Menurutku krim dokter memang membuat kulit menjadi semakin sensitif, tanda-tandanya itu mudah kemerahan, sering merasa perih dan gatal, dan mudah timbul jerawat. Kamu yang menggunakan krim dokter manapun pasti pernah merasakan hal ini kan?

Nah, setelah berhenti dari krim dokter, gejala itu udah agak berkurang. Aku justru merasa kulit semakin sehat, kenyal dan bebas dari zat-zat kimia. Memang fase-nya gak mudah dan gak instan but it’s really worth it!

Baca juga: Review 10 Hari Peeling dan Serum dari V 10 Plus

So, kali ini aku akan berbagi bagaimana caranya lepas dari krim dokter dan memulai untuk menggunakan skincare non dokter.

(1) Selang-Seling Krim Dokter dengan Skincare Non Dokter
Penting untuk diketahui bahwa lepas dari krim dokter itu harus bertahap. Kulit membutuhkan penyesuaian dengan skincare non dokter. Aku biasa menggunakan metode selang-seling agar kulit tidak kaget dan lebih mudah beradaptasi. Jadi, hari ini aku pakai krim dokter, besoknya aku pakai skincare non dokter. Atau, di hari berikutnya aku selipkan skincare non dokter di tengah-tengah rutinitas krim dokter. Satu hal lagi yang perlu diingat, krim malam dari dokter itu paling sulit untuk dilepas ketimbang krim siang. Jadi, usahakan untuk tidak melepas krim malam begitu saja ya.

(2) Hydration is a must!
Pengalaman ku setelah lepas dari krim dokter adalah kulit menjadi sangat kering. Akibatnya jadi mudah gatal dan perih karena sensitif. Untuk mengatasi hal itu, aku rajin menggunakan skincare non dokter yang memberikan banyak hidrasi ke kulit sehingga kulit selalu lembab dan tidak memproduksi minyak berlebih. Aku sering menggunakan hydrating toner, sheet mask dan sleeping mask.

(3) Jangan meng-eksfoliasi kulit terlalu sering
Tujuan dari eksfoliasi adalah mengangkat kulit mati dan hal itu sudah sering dilakukan selama aku menjalani perawatan dokter. Jadi, aku gak sering-sering melakukannya ketika sudah lepas dari krim dokter. Yang aku fokuskan adalah mengembalikan kekenyalan kulit. Eksfoliasi tetap aku lakukan tapi setiap 2-3 minggu sekali. Jika, keadaan kulit sudah membaik maka intensitasnya ditingkatkan.

 (4) Olahraga dan minum air putih
Ini yang terpenting sih! Aku merasakan betul efek positif dari dua hal ini. Ketika kulit sedang menjalani perawatan either itu pakai krim dokter atau skincare non dokter, olahraga tetap harus dilakukan minimal dua kali seminggu guna memaksimalkan kinerja skincare. Minum air putih setidaknya 2 Liter sehari agar kulit tidak kering ya.

Hasilnya, sekarang kulit ku sudah mulai membaik dibandingkan sejak pertama kali lepas dari krim dokter. Tone warna kulit ku pun lebih terlihat cerah dan sehat alami. Jika di make up pun hasilnya glowing, karena make up lebih mudah menempel di wajah.

Baca juga: Apakah Skincare Harus Mahal?

Berbeda saat masih menjalani perawatan dokter, kulit wajah memang cerah dan putih tapi cenderung pucat dan malah memerah ketika terkena sinar matahari. Selain itu, kulit justru berasa ketarik, kering dan bahkan mengelupas. Otomatis, kalau di make up pun hasilnya patchy dan flaky. Menurut pengamatan ku, sebagian orang yang menjalani perawatan dokter setidaknya memiliki penampakan kulit yang seperti ini.

Satu hal yang aku pelajari dari journey ini adalah aku jadi lebih mengenal serta memahami keinginan kulit ku dan tentunya lebih menghargai apapun yang Allah kasih karena pada dasarnya we born to be good not to be perfect! Setuju?

So, it’s ok to have pimples, it’s ok to get dark circles and it’s ok to not to get clear skin. It’s something that you have not to be shame of as long as you treat them better.

Disclaimer: I am not a beauty expert nor someone who have a perfect skin. I just want to share and everything expressed here are truly honest and based on my experience with a product. What works on me, may not work for you.

Image: https://zuri.in/