Zeilla Mutia Devi

CERITA KEHAMILAN TRISEMESTER PERTAMA

/

Cerita kali ini aku akan flashback ke beberapa bulan belakang tepatnya saat pertama kali aku mengetahui diriku sudah mengandung. Sebenarnya aku sudah ingin menulis cerita ini sejak lama tapi entah kenapa perasaan haru dan bahagianya selalu meluap-luap jadi bikin gak konsen nulis. Lagi pula aku tidak mau terburu-buru menyebarkan kabar bahagia ini dengan alasan “pamali”. Berita kehamilan ini adalah salah satu anugrah yang sudah lama aku dan suami nantikan sejak pernikahan kami pada April lalu. Dihitung dari bulan pernikahan kami, aku masih sempat mengalami menstruasi selama dua kali dan sempat sedih karena aku sangat berharap cepat mendapat momongan saat itu.

Tanda-Tanda Hamil
Saat menginjak bulan puasa aku sudah mulai mengalami gejala aneh seperti tidak menstruasi selama 1 bulan penuh. Aku gak mau terlalu percaya diri dulu pada saat itu sebab aku memang sering telat menstruasi. Aku pun sudah kecewa sebanyak dua kali karena merasa terlalu percaya diri. Dugaan aneh yang aku rasakan semakin diperkuat ketika saat hari raya lebaran aku mulai merasa tidak enak badan seperti mual dalam perjalanan, meriang, pusing, batuk pilek hingga tidak nafsu makan mirip dengan gejala morning sickness. Aku mulai tidak menyukai beberapa makanan yang semula aku sangat sukai. Kondisi ini berlangsung hingga aku bertemu dr. Susanti Kusomo Budiarti, Sp.OG di RS Antam Medika pada awal Juli lalu. Pada saat itu justru kondisi kesehatan ku sedang sangat menurun.

Ternyata, usia kandungan ku dikabarkan sudah menginjak tujuh minggu pada saat pertama kali konsultasi. Alhamdulillah! Aku dan suami langsung terharu bahagia bahkan gak sadar mata ku sempat berkaca-kaca melihat layar USG. Rasa bahagia dan syukur kami rasanya gak bisa diungkapkan, we are beyond happy! Keluarga besar menyambut bahagia dan bersyukur mendengar kabar aku akan menjadi ibu. Bahkan ibu dan mama mertua ku juga turut menangis. Sejak saat itu, aku mulai fokus membesarkan bayi ini dengan baik sejak dalam kandungan. Walaupun trisemester pertama ini terasa cukup berat untuk dilalui dikarenakan penyesuaian ku dengan si jabang bayi yang kini hidup dalam perutku tidak berjalan mulus.

Kondisi Kesehatan Pada Trisemester I
Dihitung dari minggu ke-7 hingga minggu ke-14 kondisi kesehatan ku tidak stabil. Aku mengalami mual dan batuk parah hingga kesulitan bicara karena tenggorokan yang terlalu gatal. Bahkan dada ku ikutan sakit akibat batuk yang terlalu keras. Hampir setiap malam aku kesulitan tidur karena suhu badan ku panas disertai pilek yang menyumbat pernafasan. Gak jarang juga nikmat ini semakin ditambah dengan pegal linu pada pinggang dan pangkal paha. Alhamdulillah suami ku sangat sabar dan perhatian, walaupun dia juga lelah bekerja dan kuliah tapi masih sempat untuk merawat ku dikala sakit.

Baca juga: Tips Memilih RS Bersalin dan Dokter Kandungan

Biasanya aku minta dipijit pada malam hari menggunakan minyak kayu putih sebab aku tidak diizinkan mengonsumsi obat-obatan. Jadi, yang membuat virus tidak kunjung pergi adalah karena tidak diobati, aku hanya diperbolehkan mengonsumsi vitamin c secara rutin. Pada saat itu, aku memilih Enervon C atau UC 1000. Yang paling tidak tertahankan adalah batuk, pada saat itu aku hanya bergantung pada obat-obatan secara alami yang diramu oleh Ibu yaitu campuran madu atau kecap dengan perasaan jeruk nipis. Gak cuma itu, aku juga menghisap kencur. Semua aku jalani demi dede bayi selalu sehat dan nyaman di dalam kandungan.

Aku juga selalu membawa aroma therapy roll on dengan ekstrak peppermint untuk mengatasi mual dan pusing yang tiba-tiba datang. Sebenarnya kondisi ku sempat membaik pada minggu ke-10 tapi berubah semakin parah pada minggu ke-11. Rasanya sedih karena kondisi tersebut harus diikuti dengan selera makan yang menurun. Aku terus memikirkan bayi dalam kandungan, muncul beberapa kekhawatiran terkait gizi si dede bayi akibat selera makan ku yang menurun. Secara bersamaan aku juga dihinggapi rasa parno perihal keguguran yang memang umum dialami oleh calon Ibu pada trisemester pertama sebab kondisi kesehatan ku yang naik turun.

Perubahan Fisik Pada Trisemester I
Berat badan ku juga belum mengalami kenaikan yang berarti pada saat itu. Pada awal kontrol hingga masuk masa akhir trisemester pertama, aku hanya mengalami kenaikan sebanyak 3kg saja. Memang payudara ku terasa sangat berat dan membesar tapi perut ku masih terlihat rata. Aku sempat bertanya pada dr. Susanti, Sp.OG apakah keadaan ini normal tapi lagi-lagi Alhamdulillah aku dipertemukan dengan dokter kandungan yang sangat baik. Beliau selalu meyakinkan ku kalau apa yang aku lalui ini tidak perlu dicemaskan, semua masih dalam tahap wajar. Mungkin karena aku calon ibu baru jadi banyak hal yang aku takutkan.

Baca juga: Jerawat Membandel Pada Wanita, Waspada Hiperandrogen

Selain itu, perubahan fisik lainnya terlihat pada area wajahku yang mulai ditumbuhi bruntusan, paling banyak terjadi di area dahi dan dagu. Aku sempat frustasi sebab pada trisemester pertama ini aku memang mengurangi pemakaian skincare dengan kandungan kimia. Sebenarnya sah-sah saja kok untuk konsisten menggunakan skincare saat hamil tapi memang ada beberapa kandungan yang sebaiknya dihindari. Aku akan ulas soal ini di lain kesempatan ya.

Ngidam Apa Ya?
Bicara soal “ngidam” pada trisemester pertama, aku pribadi sepertinya belum terlalu merasakan pada saat itu. Lagi pula sepengetahuan ku ngidam itu hanya mitos, bukan keinginan sang jabang bayi melainkan alam bawah sadar ibu yang tidak sengaja memikirkan sesuatu terutama makanan hingga akhirnya muncul rasa keinginan yang berlebih. Dalam hal ini, ada beberapa makanan yang setiap kali melihatnya membuat aku merasa kesal dan mual, misalnya bakso, jeroan, segala macam makanan yang dimasak Balado hingga daging berlemak. Entah berlebihan atau apa, aku pernah merasa kesal hingga mau menangis hanya karena melihat bakso, suami ku sampai aneh karena sebelumnya aku maniak sekali dengan makanan ini.

Sebaliknya, walaupun aku tidak menilai ini sebagai “ngidam” tapi aku sangat menyukai makanan western seperti spaghetti atau aneka pasta yang diolah dengan keju, cake, roti-rotian dan permen Yuppy Gummy Bears. Pernah aku menghabiskan sebungkus permen Yuppy Gummy Bears hanya dalam waktu kurang dari sejam. Selera ini mirip sekali dengan kesukaan suami hingga mama mertua merasa kalau si dede bayi kelak akan mirip dengan Bapak-nya. Aku juga suka sekali dengan susu, kalau dituruti aku bisa minum susu hingga empat kali dalam sehari. Jadi, walaupun pada saat itu selera makan ku menurun, beruntungnya masih ada asupan lain yang bisa diterima oleh perut ku.

Intinya, pengalaman kehamilan seorang calon ibu memang berbeda-beda, tidak ada satu patokan kalau apa yang aku alami ini akan kamu alami juga. Gak sedikit pula yang merasa “hamil kebo” pada trisemester pertama artinya si calon ibu benar-benar kuat dan tidak merasakan keluhan-keluhan aneh pada dirinya. Banyak orang bilang kalau trisemester pertama adalah masa paling rentan bagi ibu hamil sebab kandungan dan rahim masih sangat rawan. Oleh sebab itu, diperlukan banyak istirahat, kehati-hatian dan kesabaran dalam menjalani setiap nikmatnya sehingga sang jabang bayi bisa bertahan dan kuat.

Sekarang usia kandungan ku sudah memasuki akhir trisemester kedua. Mau tau kelanjutan ceritanya?

Baca juga: Cerita Kehamilan Trisemester Kedua