Zeilla Mutia Devi

CERITA KEHAMILAN TRISEMESTER KEDUA

/

Setelah berjuang memulihkan kesehatan di masa trisemester pertama, sampailah aku pada penghujung trisemester kedua. Saat aku menulis cerita ini, usia kandungan ku sudah menginjak 23 minggu. Alhamdulillah kondisi kesehatan ku sudah kembali normal, sungguh jauh membaik jika dibandingkan pada masa trisemester pertama. Benar-benar tidak menyangka kalau masa kelam itu akan berakhir juga karena benar-benar menguras energi dan emosi tapi tetap aku nikmati setiap perjalanan pada masa kehamilan anak pertama ini.

Kondisi Kesehatan Pada Trisemester Kedua
Bersyukur sekali aku dan dede bayi tumbuh semakin sehat dan kuat setiap harinya. Suami juga tidak menyangka kalau aku kembali menjadi pribadi yang gesit, aktif dan periang. Sangking gesitnya, aku mampu melakukan semua aktifitas rumah tangga tanpa hambatan. Aku masih bisa bangun pagi untuk menyiapkan sarapan suami serta melakukan aktifitas lainnya tanpa mengeluh. Senang rasanya bisa melayani dan sigap menyiapkan kebutuhan suami walaupun perut ku sudah semakin membesar.

Pada trisemester kedua ini aku juga merasa lebih bersemangat di dapur. Aku rajin membuat camilan dan masakan sendiri. Berbeda dengan masa kehamilan pada trisemester pertama dimana aku cukup sensitif dengan aroma masakan. Intinya imunitas ku semakin baik dari hari ke hari, aku juga bisa mengonsumsi minuman dingin tanpa khawatir akan terserang batuk pilek lagi.

Tapi, dokter pernah menjadwalkan ku untuk menjalani test lab untuk melihat apakah aku memerlukan asupan vitamin tambahan atau tidak. Alhamdulillah hasil lab yang keluar menyatakan kalau aku tidak memiliki masalah yang serius. Satu yang perlu aku jaga adalah kadar hemoglobin supaya tidak semakin rendah hingga tiba waktu persalinan. Solusinya adalah dengan rajin mengonsumsi sayur-sayuran.

Baca juga: Cerita Kehamilan Trisemester Pertama

Asupan Pada Trisemester Kedua
Aku termasuk doyan makan tapi semenjak hamil memang ada beberapa makanan yang harus aku kurangi bahkan aku hindari untuk tidak dikonsumsi. Misalnya, yang paling menjadi perhatian dokter ku adalah makanan mentah, Ibu hamil dilarang mengonsumsi makan makanan mentah demi menghindari bakteri yang masuk ke dalam janin sehingga berpotensi melahirkan bayi cacat. Bukan cuma sushi dengan isian mentah, tapi segala makanan harus diolah secara matang sempurna termasuk itu daging dan telur. Aku penyuka daging merah dan sudah enam bulan tidak mengonsumsi itu rasanya kangen juga hehe.

Selebihnya, dokter ku tidak memberikan pantangan tertentu perihal makanan. Intinya, beliau menyimpulkan bahwa asupan Ibu hamil dengan orang biasa itu sama saja, perbedaannya hanya pada point makanan mentah tadi. Sementara makanan yang lain boleh dikonsumsi asal tidak berlebihan. Aku suka dengan penyampaian beliau yang tidak membuat parno ibu hamil sebab gak sedikit pula dokter kandungan yang banyak memberi pantangan pada asupan ibu hamil misalnya tidak boleh mengonsumsi mie instan, durian, makanan pedas, dan lain-lain. Sebenarnya bukan tidak boleh sih tapi intensitasnya dikurangi.

Prinsip ku adalah makan makanan apa saja yang saat itu aku inginkan. Aku selalu mencoba berpikir positif bahwa apapun yang aku makan selagi itu halal, matang, layak dan bersih, Insya Allah tidak akan membahayakan janin ku. Tapi, tetap dahulukan yang bergizi dan bernutrisi ya. Harus ku akui kalau nafsu makan ku pada trisemester kedua ini melonjak drastis. Dalam sehari aku bisa makan empat sampai lima kali sehari belum termasuk camilan. Bicara camilan aku suka menyelipkan biskuit Belvita dalam tas ku. Jadi, aku tidak mencari-cari makanan kalau tiba-tiba dilanda lapar.

Perubahan Fisik Pada Trisemester Kedua
Nah, di akhir masa trisemester kedua ini aku mulai mengalami banyak perubahan fisik. Pertama, ukuran payudara ku semakin membesar, gak cuma ukuran cup-nya saja tapi lingkar dada ku juga berubah sehingga perlu membeli bra baru. Kedua, kenaikan berat badan ku sudah mencapai 11kg. Tentunya, sudah gak ada lagi celana selama gadis yang muat untuk dikenakan. Ketiga, perut ku sudah membesar dan sangat kencang. Sangking kencangnya kadang suka terasa gatal. Keempat, pastinya sekarang aku jadi gendut! Haha.

Baca juga: Skincare for Beginners

Selama gadis, berat badan ku gak pernah menyentuh angka 50kg. Tapi, sekarang timbangan ku berada diangka 58kg dari yang semula 47kg. Jadi, sudah kebayang kan sekarang suka “begah” kalau lama-lama berjalan atau bangkit dari duduk. Tapi, lagi-lagi aku menikmati segala perubahan yang terjadi pada masa kehamilan. Gak cuma itu, anehnya kulit badan ku cenderung lebih putih ketimbang warna kulit wajah dan wajahku mulai dihinggapi jerawat! Kabar baik dari hadirnya jerawat ini adalah bruntusan yang terjadi di area dahi dan dagu ku hilang dengan sendirinya, diganti dengan jerawat yang suka hilang timbul di area pelipis dan juga dagu.

Perkembangan Janin Pada Trisemester Kedua
Sekarang dede bayi sudah bisa nendang-nendang, kalau pagi dan malam hari tendangannya aktif sekali. Momen ini langsung aku manfaatkan untuk berkomunikasi dengannya, biasanya lewat sentuhan pada perut dan obrolan ringan. Pada tahap ini, dede bayi sudah bisa mendengar suara sang ibu, suara musik hingga obrolan yang terjadi di luar kandungan. Oleh sebab itu, penting untuk tidak membicarakan hal-hal negatif yang kemungkinan akan terdengar oleh dirinya.

Selain mengajak ngobrol dan mulai memberikan nasihat, aku sering mendengarkan lantunan murotal Al-Qur’an pada dede bayi. Tidak perlu menempelkan headphone pada perut, justru tindakan ini bisa membuat bayi dalam kandungan menjadi stres. Cukup lantunkan dengan volume sedang melalui speaker yang kamu miliki, hal ini diyakini mampu menstimulus perkembangan otak janin dan membuat rileks perasaan sang ibu.

Merupakan anugrah dan rasa bahagia yang luar biasa bisa merasakan pergerakan sang jabang bayi di dalam perut. Alhamdulillah dede bayi tumbuh sehat jika dipantau dari hasil USG. Pernah saat menginjak usia tiga bulan, ukuran dan berat dede bayi di atas rata-rata. Memiliki bayi yang lucu dan gemuk memang impian banyak calon ibu tapi yang terpenting untuk ku adalah bayi sehat dan tak kurang suatu apapun. Doakan ya semoga aku dan dede bayi selalu sehat dan bisa melahirkan secara normal pada saatnya tiba nanti.

Baca juga: Tips Memilih RS Bersalin dan Dokter Kandungan

Kira-kira anakku perempuan atau laki-laki ya?