Zeilla Mutia Devi

Sulitnya Mencari Dokter Anak yang Cocok

/

Dulu sebelum memiliki keturunan, saya kerap sinis dengan Ibu dan Bapak yang repot karena sulitnya mencari dokter anak yang cocok dengan alasan ini itu sehingga selalu berpindah-pindah dokter sampai menemukan yang “klik”. Pada saat itu saya merasa semuanya berlebihan karena pada dasarnya saya tidak pernah berlangganan dan loyal terhadap dokter tertentu dengan alasan cocok. Tidak membayangkan kalau ternyata saya mengalami hal yang sama walaupun hanya sementara.

Setelah memiliki Sinna saya baru tahu rasanya sulit mencari dokter anak yang cocok. Pertimbangannya bukan hanya cocok di kantong melainkan juga cocok di hati, ini yang terpenting. Sejak lahir 6 bulan lalu, Sinna sdh 4 kali ganti dokter. Pindah dokter pertama dilakukan karena saya harus pindah domisili untuk sementara waktu selain memang saya kurang srek dengan dokter pertama sebab banyak pertanyaan saya sering kali berakhir tidak terjawab alias buntu.

Pindah dokter kedua sebenarnya saya suka dengan dokter ini, beliau informatif dan lumayan lucu pada anak-anak. Tapi, jadwalnya tidak fleksibel. Saya kemudian pindah ke dokter ketiga di rumah sakit yang sama karena kecele bahwa dokter kedua saat itu sedang tidak praktik, khusus untuk dokter ini saya amat sangat tidak suka karena beliau melakukan body shaming pada bayi saya yang waktu itu baru 5 bulan. Setidaknya hanya bercanda, saya merasa melecehkan fisik bayi saya bukan suatu candaan yang lucu.

Bertemu dr. Tiwi SpA
Nah, dokter yang keempat sengaja saya pilih dengan alasan Sinna pada saat itu ingin memasuki fase Mpasi. Saya kenal beliau dari laman YouTube, Dr. I Gusti Ayu Nyoman Partiwi atau yang akrab dipanggil dokter Tiwi kerap melakukan seminar seputar topik ASI dan Mpasi sehingga saya terdorong ingin dapat banyak ilmu langsung dari beliau.

Kunjungan pertama kami ke RS Bunda Menteng, antriannya cukup panjang pada pagi hari. Tapi, konsultasi di kamar praktik tidak terlalu lama karena beliau cukup cekatan dan responsif. Beliau juga cukup detail dan informatif memberikan saran pada orang tua dalam membesarkan sang buah hati. Vaksin Sinna pun sekaligus dilakukan oleh dokter Tiwi.

Kala itu banyak sekali PR yang harus saya kerjakan demi memulai fase Mpasi Sinna. Ya, adaptasi Sinna dengan makanan memang tidak semulus yang saya bayangkan. Saya merasa fase ini paling menguras kesabaran. Ya Allah rasanya mau menyerah tapi suami selalu menguatkan saya untuk sabar dan coba lagi.

Segala saran dokter dan berdasarkan banyak literasi yang saya pelajari, tidak semuanya membuahkan hasil. Target BB (Berat Badan) Sinna masih belum tercapai sampai saya berada dititik, “oke saya akan lebih santai dan kasih apa saja makanan yang Sinna suka” tentunya masih dengan pengawasan.

Tantangan Pada Awal Masa Mpasi
Banyak feeding rules yang saya tabrak demi sesuap nasi masuk ke dalam mulut Sinna. Artinya, praktik memang tidak selalu semudah teorinya. Karakter anak berbeda-beda, ini yang harus saya tanamkan kepada diri saya sebagai orang tua. Jangan sampai terbesit rasa atau pemikiran untuk membandingkan Sinna dengan anak lain sebab orang tua lain pasti punya masalahnya sendiri yang saya mungkin tidak tahu.

Pernah di satu masa saya malas sekali pergi ke dokter anak untuk konsultasi rutin sebab saya akan semakin stres jika keluar dari kamar praktik. Saya akan memaksa Sinna untuk makan dan itu jelas tidak baik, ini akibat catatan dokter tentang pertambahan BB Sinna. Dokter anak memang orang yang tepat untuk diajak duduk bersama membicarakan tumbuh kembang sang buah hati tapi ada satu hal yang kurang dari ini, mereka tidak pernah tahu sekeras apa si Ibu berusaha, selelah apa si Ibu menahan emosi dan mencoba sabar ketika anaknya selalu menyemburkan makanan sekalipun menunya rutin diganti.

Belum lagi si Ibu harus mendengar banyak cibiran dari orang tentang parenting style nya ketika mendisiplinkan anak ketika makan, jujur ini tidak mudah. Pada poin ini akhirnya saya tersadar kalau saya hanya butuh sabar dan tenang, setidaknya saya sudah mencoba segala hal yang terbaik, kalau hasilnya bukan sekarang mungkin nanti.

Tumbuh Kembang Sinna Usia 9-12 Bulan
Tapi, terlepas dari nafsu makan Sinna yang masih harus diperbaiki, perkembangannya patut diacungi jempol. Selain pertumbuhan gigi yang baik, dokter sempat tak menyangka melihat Sinna sudah lancar berjalan di usia 9 bulan. Sebab, untuk mampu berjalan dengan baik dibutuhkan otot-otot kaki yang kuat dan semua itu diperolah dari nutrisi dan gizi dari makanan.

Tak hanya itu, Sinna sudah mulai “bubbling” atau mengucap kata Bapak dan Apa dengan sangat baik. Memang bayi umumnya lebih mudah melontarkan celotehan dengan imbuhan “ma, pa dan ba”. Jadi, PR saya bukan pada perkembangan Sinna melainkan masih dalam pola dan nafsu makannya. Entah sampai kapan drama ini akan berakhir atau setidaknya membaik, hanya waktu yang bisa menjawab.

Betul saja, nafsu makan Sinna mulai membaik di usia 10 bulan. Ya walaupun porsinya masih kurang dibandingkan dengan yang seharusnya dia makan di usianya tapi ini merupakan kemajuan untuk anak saya. Di usia 11 bulan ia sudah mengonsumsi makanan keluarga yaitu nasi utuh, sayur mayur serta lauk tanpa harus dihaluskan lagi. Artinya, pencernaan Sinna sudah mampu menerima tekstur makanan secara sempurna dan bagusnya lagi ia pun tidak sembelit.

Menjelang usia 12 bulan Sinna semakin pintar, makannya semakin baik lagi, giginya juga sudah delapan. Yang mengagetkan Sinna sudah bisa turun dari kasur dengan mandiri, kosa katanya juga bertambah. Kesayangan Ibu semoga terus semakin cerdas dan sehat.

Jadi, memang tidak ada salahnya mencari dokter anak yang cocok dengan kita. Tapi, itu semua bukan jaminan kalau segala keresahan hati kita akan terjawab, setidaknya kita berkonsulutasi dengan orang yang tepat. Tetap hanya kita sebagai orang tua yang memahami betul pertumbuhan anak sendiri, jadi investasikan waktu sebanyak mungkin dengan anak. Pelajari dan bentuk karakternya, siapkan stok sabar dan kemauan untuk selalu belajar, belajar dan belajar.