Zeilla Mutia Devi

Belajar Jadi Ibu Minimalis

/

Sekarang tren hidup minimalis sedang digemari banyak kalangan. Saya pun semakin tertantang untuk menerapkannya di rumah. Beberapa aktivitas terjadi karena situasi yang menuntut tapi sisanya karena saya memang ingin Belajar Jadi Ibu Minimalis. Benar-benar menerapkan konsep minimalis di kehidupan sejak dua tahun kebelakang, kali ini saya ingin berbagi pengalaman saya menjadi manusia yang ingin lebih baik lagi setiap harinya. 

Sebenarnya gaya hidup minimalis ini gak terlalu sulit untuk saya terapkan sebab sedari kecil saya gemar bebenah. Tapi, semakin ke sini minimalis itu gak cuma doyan bebenah aja tapi lebih luas dari itu seperti yang kerap dibahas oleh akun Lyfewithless. Satu yang masih saya pelajari banget adalah menanamkan konsep hidup minimalis sejak dalam pikiran agar memikirkan segala sesuatu itu seperlunya saja sehingga tidak berujung menyita energi dan terlarut dalam kesedihan atau aura negatif. Ini penting sekali di zaman sekarang!

Baca juga: Ibu Waspada Virus Corona dari Rumah

Belajar minimalis juga semakin menjadi tantangan untuk saya yang masih sulit mengontrol perasaan OCD (Obbesisve Compulsive Disorder). Jadi, selain belajar minimalis saya sekaligus belajar menekan hasrat OCD, ya walapun belum terlalu akut ya. Dengan memiliki kontrol diri yang baik sebenarnya saya belajar untuk tidak merepotkan diri sendiri ketika melihat rumah seperti kapal pecah saat anak memasuki fase eksplorasi. Buktinya saya sudah dengan santainya melepas barang yang mungkin “bersejarah” untuk dieliminasi saat proses decluttering. Jadi, yang namanya belajar itu semua berproses begitu dengan minimalis dan OCD ini.

Hubungannya dengan pasangan hidup walau suami saya juga rajin bebenah di rumah tapi jiwa-jiwa OCD itu suka kurang puas kalau melihat barang rapi tidak pada tempatnya. Misalnya, setiap hari melihat tumpukan baju berantakan. Ya, serapi-rapinya lelaki, tau kan kadarnya seberapa? Alhasil, untuk melepas perasaan “gondok” di hati, saya belajar menerima inisiatif suami ketika dengan sadar membantu saya di banyak kegiatan walaupun hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Dalam tahap ini, saya belajar untuk merubah mindset rempong ke arah cara berpikir yang lebih minimalis.

Terlepas dari itu, saya akui banyak aktivitas minimalis yang sebenarnya menjadi terapi untuk saya. Beberapa di antaranya adalah: 
– Menyiapkan baju pergi di malam hari untuk esok pagi
– Segera mencuci piring setelah masak
– Decluttering mainan anak yg sudah rusak
– Food preparing belanjaan dari pasar
– Decluttering isi lemari es seminggu sekali
– Decluttering lemari tiga bulan sekali, dan lain-lain

Baca juga: Sulitnya Mencari Dokter Anak Yang Cocok

Kalau yang sifatnya aktivitas seperti di atas saya merasa mudah untuk menjalani karena sudah menjadi kebiasaan tapi yang sulit adalah mindfull ketika beraktivitas. Sebagai seorang full time mother, saya sering melakukan banyak hal dalam satu waktu. Memang lebif efektif, lebih banyak aktivitas yang selesai tapi rata-rata hasilnya kurang memuaskan atau parahnya saya merasa tidak senang melakukan itu sebab lelah dan butuh konsentrasi lebih tinggi yang berujung rentan emosi. Inilah tantangan yang sesungguhnya ketika memulai menjadi Ibu minimalis. 

Belum lagi jika sudah menyenggol masalah tumbuh kembang anak, semakin sulit untuk mindfull dengan prestasi dan kemampuan anak sendiri. Ini juga yang perlahan-lahan sedang saya pelajari. Caranya bagaimana?
– Tutup mata dan kuping tentang omongan orang yang suka membandingkan anak
– Perbanyak stok sabar dan selalu mengapresiasi kemampuan anak
– Perbanyak afeksi dan sentuhan sayang kepada anak
Social Media Detox, misalnya kurangi screen time dan unfollow akun-akun yang membawa aura negatif untuk kita

Baca juga: Staycation di Hotel Best Western Premier The Hive

Selain cara-cara di atas, memperbanyak waktu bonding dengan anak menjadi salah satu cara efektif menangkal aura negatif merasuki pemikiran kita sehingga kita tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal tidak penting. Kini saya lebih plong dalam merawat Sinna sebab saya gak banyak tengok kanan kiri dan juga mendengar nada-nada sumbang.

Jadi, perlu diakui sejak menerapkan gaya hidup minimalis hati saya lebih tenang dan lega. Seolah toxic sudah pergi dari dalam hati. Saya gak banyak menghabiskan waktu di depan gadget terbukti dengan data statistik screen time saya yang turun 30%, artinya saya lebih banyak melakukan aktivitas di dunia nyata. Tapi, saya masih harus terus belajar karena yang namanya gaya hidup itu sebuah perjalanan, tidak berhenti sampai di sini. It’s a long journey!