Zeilla Mutia Devi

Cara Mengelola Keuangan Rumah Tangga Ala Ibu Minimalis

/

Semenjak menikah saya dan suami memutuskan untuk disiplin dengan keuangan rumah tangga. Artinya kami mulai membuat perencanaan keuangan rumah tangga bulanan dan komit dengan bujet yang sudah ditetapkan. Awalnya kami mulai secara sederhana dengan periode singkat  dan berangsur-angsur untuk periode yang lebih panjang. Hal ini kami lakukan demi kesehatan bujet rumah tangga sehingga semua pemasukan dan pengeluaran ada perhitungannya. Maklum pasangan muda sangat sulit mengontrol keuangan.

Sebulan setelah menikah kami merasa terlalu boros. Padahal pada saat itu kami belum memiliki tanggungan yang berarti, itu artinya keuangan kami tidak sehat sementara kami memimpikan memiliki rumah sendiri. Bagaimana bisa jika dengan gaya hidup seperti ini? Dari sini kami memutuskan untuk menghitung ulang pendapatan kami berdua dan mulai menganggarkannya ke dalam pos-pos bulanan yang wajib untuk dibayar. Alhasil, tiga bulan setelah menikah kami sudah mantap untuk mulai mencicil rumah.

Bukan Pelit! Tapi Lebih Bijak Menggunakan Uang
Menjelang dua tahun menikah perencanaan keuangan kami jauh lebih kompleks. Sebab kini sudah banyak tanggungan yang harus kami penuhi sebagai keluarga mandiri terlebih lagi anggota keluarga kami bertambah sejak hadirnya Sinna. Kami pun resmi pindah ke rumah sendiri Januari 2020 lalu yang artinya kami mulai berkontribusi penuh terhadap rumah dan isinya, mulai dari iuran cluster, biaya listrik, internet, pulsa, laundry hingga ke ranah dapur. Itu semua sudah harus ada dana dan anggarannya.

Saya pun dituntut untuk lebih bijak dalam menggunakan uang, bijak ya bukan pelit. Bijak dalam mengelola uang itu artinya bisa membedakan mana yang wajib dan mana yang bisa ditunda atau bahkan tidak masuk dalam anggaran. Ingat! Menjadi istri sekaligus ibu di zaman sekarang yang serba mudah itu bisa dianggap sebagai keberuntungan bisa juga dianggap sebagai tantangan. Intinya, saya harus cerdas dalam mengatur kepentingan rumah tangga.

Baca juga: Belajar Jadi Ibu Minimalis

Di rumah tangga kami, saya yang mengelola cash flow tapi suami yang membuat perencanaannya sementara anggaranya selalu kami diskusikan bersama. Perlu diingat! Mendiskusikan bujet rumah tangga akan terasa berat di awal dan mungkin akan timbul perbedaan pendapat di antara pasangan tapi hal itu wajar dan akan terbiasa. Walaupun suami lulusan pascasarjana jurusan Finance tapi perencanaan keuangan yang dia buat mudah dimengerti oleh saya.

Untungnya memiliki perencanaan keuangan seperti ini adalah kami jadi lebih bisa mengontrol anggaran rumah tangga dan menyesuaikannya dengan bujet yang ada. Masing-masing anggaran untuk kebutuhan wajib, sekunder dan tersier jadi lebih jelas dan terukur. Jika dirasa butuh membeli barang baru, kami mengacu pada sisa saldo bulanan setelah seluruh pos-pos wajib dibayarkan atau dari pemasukan lain. Begitu juga dalam menentukan metode pembeliannya, apakah menggunakan kartu kredit, tunai atau uang elektronik, itu semua masuk dalam perencanaan keuangan di dalam rumah tangga kami.

Mulai Dari Bayar Yang Wajib
Gak usah bingung! Saya akan coba memberikan gambaran dari perencanaan keuangan di rumah tangga saya dalam hitungan satu bulan terakhir. Dalam merencanakan anggaran bulanan yang mengacu pada pemasukan utama yaitu gaji suami, kami mengurutkan pos-pos pembayaran dari angka yang paling besar dalam kasus kami adalah cicilan rumah kemudian tagihan kartu kredit dan sejenisnya termasuk juga penggunaan paylater. Pos wajib lainnya yaitu untuk bayar tagihan listrik serta Iuran Pemeliharaan Lingkungan (IPL) di cluster kami. Tagihan wajib bulanan ini angkanya tetap (selain listrik) dan berlaku denda jika telat bayar, jadi selalu kami utamakan.

Budgeting Rumah Tangga

Baca juga: Sulitnya Mencari Dokter Anak Yang Cocok

Setelah pos wajib bulanan di atas selesai, kami membuat perencanaan keuangan untuk kebutuhan sehari-hari yang dirangkum dalam periode 30 hari atau perbulan. Yang termasuk dalam bujet ini adalah transportasi dan konsumsi suami bekerja, kebutuhan rumah tangga seperti halnya popok bayi, groceries (kebutuhan dapur, laundry dan toiletries), pulsa/internet, serta bensin dan anggaran ketika berkunjung ke rumah orang tua. Semua angka dari masing-masing kebutuhan di atas termasuk fixed cost dalam arti tidak berubah dari yang dianggarakan. Setidaknya ada angka yang meleset umumnya tidak terpaut jauh sehingga anggaran bulanan ini menjadi acuan dalam periode satu tahun ke depan.

Bujet Harian Masih Bisa Ditekan Kok
Jadi, sebelum kamu menganggarkan bujet untuk kebutuhan harian pastikan kamu sudah memenuhi kewajiban untuk membayar tagihan bulanan sebab tagihan bulanan itu sifatnya wajib alias tidak bisa diganggu gugat. Bagaimanapun kondisi ekonomi kamu saat ini, kamu tetap harus bayar tagihan bulanan sementara bujet harian masih bisa ditekan. Kami biasa memainkan angka di anggaran groceries sebab kami bukan tipe orang yang menimbun stok barang terlalu banyak di rumah. Selain tidak memiliki ruang yang cukup, membeli stok berlebih juga termasuk boros!

Keuangan Rumah Tangga

Untuk mempermudah dan membuat kami tetap disiplin, anggaran bulanan yang bisa kami tarik dalam bentuk tunai akan kami simpan ke dalam amplop. Masing-masing amplop akan diisi sesuai dengan jumlah uang yang sudah dianggarkan kemudian kami beri label di bagian depan. Teknik ini terbukti membuat arus keuangan menjadi rapi, disiplin dan tidak memakan bujet dari anggaran lain. Jadi, untuk kebutuhan dapur seperti sayur mayur yang selalu menggunakan uang tunai, saya ambil dari amplop berlabelkan “Meals” berlaku juga dengan anggaran lainnya mengacu pada gambar di atas.

Lalu bagaimana jika ingin membeli barang baru? Nah, di awal saya sempat menyinggung kalau anggaran wajib tagihan bulanan dan anggaran harian ditetapkan dari gaji suami. Sebenarnya masih ada pemasukan lain seperti monetize blog saya dan beberapa bonus dari kantor suami bekerja yang kami rangkum dalam periode satu tahun. Dari situlah kami membuat rincian anggaran untuk pembelian barang baru yang sifatnya self improvement berikut juga dengan metode pembelian yang paling efektif, yang terpenting jangan sampai menyulitkan bujet hidup sehari-hari.

Baca juga: Ibu Waspada Virus Corona Dari Rumah

Perencanaan keuangan kami menjadi lebih kompleks lagi jika membicarakan soal cicilan rumah, apalagi jika sudah membahas kenaikan suku bunga Bank. Tapi, dengan bekal rincian angggaran seperti yang sudah saya ceritakan di atas, kami  jadi gak panik. Bahkan, kami sudah memiliki proyeksi sendiri tentang floating mortgage yang kira-kira akan berlangsung tahun depan tanpa meminta rincian dari pihak Bank sebab angkanya masih tentatif. Walaupun proyeksi tersebut bisa jadi meleset tapi kami sudah mengantongi angka dan menyisihkan dananya dari sekarang.

Sedekah dan Dana Darurat Itu Penting!
Jika, sudah selesai dengan pos-pos tagihan di atas jangan lupa sedekah dan menyisihkan dana darurat yang sewaktu-waktu akan berguna jika saldo mulai menipis karena satu dan lain hal. Khusus untuk dana darurat sempatkanlah walau anggarannya kecil, lebih baik ada daripada tidak punya sama sekali sebab kita gak akan pernah tahu kondisi keuangan di masa depan seperti halnya di situasi sekarang dimana perekonomian sedang merosot karena virus Covid-19.

Dalam situasi sulit, dana darurat bisa digunakan untuk membayar tagihan wajib bulanan jika kamu bukan karyawan yang menerima gaji tetap misalnya pengusaha, freelancer, dan lain-lain.

Kunci dalam membuat perencanaan keuangan adalah harus komit dan disiplin! Tahan diri dari godaan melakukan aktivitas gak penting misalnya nongkrong-nongkrong, jajan, belanja dan liburan yang gak sesuai bujet. Gak usah minder sebab yang kamu lakukan itu adalah investasi di masa depan. Selain akan merasa lebih tenang mengelola uang, kebiasaan membuat perencanaan keuangan dan mengontrol arus keuangan juga menjadikan kita lebih bijak menggunakan uang. Jika masih pemula mulai saja dari perhitungan sederhana misalnya mencatat segala bentuk arus uang yang masuk dan keluar, lama-lama akan menjadi semakin rinci.