Zeilla Mutia Devi

Kehamilan Plasenta Previa Totalis

/

Sore itu saya beraktivitas seperti biasa, mencuci, menjemur, merapikan baju, memberi Sinna makan dan menemaninya bermain hingga masak di sore hari untuk suami berbuka puasa. Ada rasa sedikit lelah di ujung hari tapi saya mengabaikannya, saya memang suka memaksa diri padahal ini adalah sinyal jika saya butuh istirahat di akhir masa kehamilan. 

Tiba saya mandi lalu darah segar keluar dari vagina dengan cukup deras dan banyak tanpa disertai rasa nyeri atau kontraksi sebelumnya. Saya pendarahan, timbul rasa panik, takut dan bingung menjadi satu. Singkat cerita saya pergi ke IGD RS EMC Sentul, tempat dimana saya konsul kehamilan rutin. Setelah melalui beberapa pemeriksaan, saya diberitahu jika penyebab pendarahan ini bisa jadi karena saya mengalami Plasenta Previa Totalis.

Apa itu Plasenta Previa Totalis?

Saat usia kehamilan masih 20 minggu dokter pernah berkata jika plasenta saya masih menutupi jalan lahir tapi kami masih optimis plasenta itu akan bergeser mengingat sisa waktu yang masih lumayan panjang. Masih ada kesempatan plasenta itu bergeser seiring rahim meregang  dikarenakan pertumbuhan janin. Ternyata sampai pendarahan ini terjadi, plasenta saya masih tepat berada di bawah dan seluruhnya menutupi jalan lahir, lantas kondisi ini yang disebut dengan Plasenta Previa Totalis. 

Kenapa Saya Didiagnosa Plasenta Previa Totalis?

Pasien Plasenta Previa

Umunya Plasenta Previa Totalis terjadi pada kehamilan anak kedua, ketiga dan seterusnya tapi tidak menutup kemungkinan pada anak pertama. Sifat dasar plasenta adalah menempel erat atau mencari tempat yang mengandung pembuluh darah paling banyak, bisa di atas, di samping, di belakang atau di bawah. Pada kondisi saya, kemungkinan besar pembuluh darah terbanyak ada di area bawah sehingga plasenta menempel di sana. Apakah plasenta akan bergeser? Iya, lebih tepatnya lagi bermigrasi yang dipicu oleh peregangan rahim seiring usia kehamilan namun kita sebagai pasien dan dokter tidak tahu kapan plasenta akan bergeser sebab semua itu proses alamiah. 

Selain faktor di atas, Plasenta Previa bisa terjadi pada ibu hamil di kondisi berikut:

– Mengandung di usia 35 tahun ke atas

– Pernah menjalani operasi cesar atau kuret

– Kehamilan sebelumnya juga mengalami Plasenta Previa

Maka tidak ada posisi duduk, posisi tidur, makanan atau hal-hal tertentu yang bisa dilakukan dari luar untuk menggeser letak plasenta, melihatnya posisinya pun harus melalui USG. Lantas apa yang terjadi jika plasenta masih menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir hingga akhirnya tiba waktu lahiran? Mau tidak mau proses persalinan harus dilakukan dengan metode sectio (operasi sesar) sebab jalan lahir tertutup plasenta. Jika masih memaksa diri untuk melakukan persalinan normal jelas fatal akibatnya. 

Banyak Istirahat Demi Terhindar dari Bayi Lahir Prematur

Ibu hamil dengan riwayat ini memang harus banyak istirahat, jangan mengabaikan sinyal lelah sebab risikonya fatal yakni bayi bisa terpaksa lahir prematur dan keselamatan ibu juga dipertaruhkan jika terlanjur kehilangan banyak darah. Segera dan sempatkan istirahat sebanyak mungkin bisa dengan duduk atau rebahan apalagi jika sudah menginjak usia akhir kehamilan. Jujur situasi ini agak sulit untuk saya. Selain masih memiliki Sinna yang sedang aktif bermain, saya pribadi termasuk orang yang tidak betah berdiam diri. Saya ingin aktif berkegiatan tapi memang fisik berkata lain, di kehamilan kedua ini memang saya sering merasa lelah tapi kerap saya abaikan.

Fokus utama pasien Plasenta Previa Totalis adalah menjaga agar bayi bisa lahir sesuai dengan jadwal taksiran HPL (Hari Perkiraan Lahir) entah itu melalui metode normal atau sectio dengan cara mengurangi aktivitas berat yang sekiranya memberi rasa lelah dan memicu kontraksi. Yang terpenting adalah bayi tidak sampai dilahirkan secara prematur sebab kondisi ini jelas menyulitkan sang bayi dan ibunya. Bayi belum cukup matang untuk dilahirkan sehingga perlu banyak penyesuaian secara medis di ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit) sementara kondisi psikis sang Ibu juga bisa jadi terganggu memikirkan sang buah hati yang bisa berujung kepada rasa stress, dan lain-lain.

Jangan Lakukan Ini Jika Kamu Pasien Plasenta Previa Totalis

Jelas sudah jika pasien Plasenta Previa Totalis dilarang untuk melakukan aktivitas yang memicu lelah berlebihan misalnya mengangkat benda berat, berjongkok, melakukan aktivitas seksual serta kegiatan apapun yang menekan rahim. Tujuannya agar tidak memicu kontraksi yang umumnya ditandai dengan rasa nyeri di bagian perut bawah, perut terasa kencang dan lain-lain. 

Letak plasenta yang berada di bawah atau lebih tepatnya menutupi jalan lahir membuat risiko pendarahan semakin besar jika ibu hamil merasa kelelahan. Risiko pendarahan berulang pun mungkin terjadi jika ibu hamil kerap melakukan aktivitas berat, mengabaikan rasa lelah dan tidak banyak istirahat. 

Perawatan Pasien Plasenta Previa Totalis di RS EMC Sentul

Konsultasi Kehamilan di RS EMC Sentul

Saya menghabiskan waktu selama 3 hari 2 malam di RS EMC Sentul sebagai pasien ibu hamil dengan status Plasenta Previa Totalis. Tujuan saya dirawat selain menghentikan pendarahan juga mencegah adanya kontraksi sekecil apapun sehingga kondisi saya terus diobservasi selama menjadi pasien rawat inap. Sebelum saya lanjutkan bercerita, ada beberapa fakta dan kondisi terburuk yang harus dipahami sebagai berikut:

– Usia janin saya pada saat itu baru 31 minggu masih sangat terlalu dini jika terpaksa dilahirkan. Selain organ dalam seperti paru-paru yang belum matang sempurna, berat badan bayi juga masih di bawah batas normal.

– Minimal bayi lahir di usia 36-38 minggu agar semua organ dan fungsi sudah bisa berfungsi dengan baik.

– Sebagai upaya pencegahan, berat badan bayi harus dikejar semaksimal mungkin mengingat risiko lahir prematur sebelum usia 36 minggu.

– Bayi wajib masuk NICU jika terpaksa lahir sebelum usia 36 minggu untuk mendapat perawatan intensif.

Jadi, segala bentuk perawatan dokter, bidan dan suster di sana berdasarkan keempat fakta ini sebagai upaya pencegahan skenario terburuk. Sebelum dirawat tentu saya dan suami wajib melalui screening Covid-19, pasien harus melakukan Swab PCR sementara penunggu pasien (max 1 orang) wajib melakukan Swab Antigen sebelum akhirnya masuk ke ruang rawat inap. Hasil Swab PCR saya keluar dalam waktu 4 jam dan selama itu saya harus menunggu di ruang IGD. Alhamdulillah hasil PCR dan Antigen suami saya negatif. 

Sejak hari pertama menginap di sana, janin saya sudah melalui pemeriksaan CTG (Cardiocotography) guna memantau aktivitas dan denyut jantung janin serta kontraksi rahim saat bayi berada di dalam kandungan. Alhamdulillah hasilnya sangat baik paska pendarahan, denyut dan pergerakan bayi terbilang aktif yang menandakan bayi sehat tidak mengalami stress. 

Bentuk perawatan lainnya yaitu saya menerima cairan pematangan paru bagi janin yang dimasukkan melalui selang infus, obat jika rahim terasa kontraksi, obat untuk memicu pertambahan berat janin hingga mengonsumsi makanan diet khusus seperti makan telur ayam sehari 6 butir dilengkapi dengan susu protein tinggi yang juga dikhususkan untuk menambah berat badan bayi.

Review Pelayanan RS EMC Sentul

Selama di sana saya benar-benar istirahat total, tidak ada aktivitas turun dari tempat tidur. Bahkan untuk buang air kecil saja harus menggunakan pispot. Sungguh pengalaman yang luar biasa di bulan Ramadhan. Pasti ada hikmah dibalik ini semua, saya yakin. Sebelum diizinkan pulang, selang infus dicabut guna melihat apakah terjadi pendarahan berulang atau tidak, selain itu janin kembali menjalani pemeriksaan CTG. Paska pulang dari RS saya juga diminta untuk bedrest total selama beberapa hari. 

Segala usaha dan upaya saya lakukan asal calon bayi selamat dan bisa bertahan sebab semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Pelajaran bagi saya di kehamilan kedua ini supaya lebih perhatian kepada janin terlebih lagi sudah memasuki masa akhir kehamilan. Saya harus belajar ikhlas pada setiap keputusan yang diinginkan sang calon bayi, ia akan memilih sendiri kapan akan terlahir ke bumi dan dengan metode apa, sedikit pun saya tidak memiliki kuasa atas hal itu sekeras apapun saya berusaha. Di sisa masa kehamilan ini saya benar-benar harus menjaga kondisi janin terhindar dari kontraksi hingga waktunya tiba. 

Memang masa kehamilan memiliki  kisahnya sendiri, walaupun dulu Sinna berhasil lahir normal dengan lancar siapa sangka di kehamilan kedua ini saya harus menghadapi Plasenta Previa Totalis. Hingga akhirnya cerita ini bisa kamu baca, saya masih menjalani bedrest untuk beberapa hari ke depan, flek juga masih kerap muncul apalagi di pagi hari. Sebisa mungkin saya harus mengurangi aktivitas hingga janin memasuki usia 36-38 minggu. Semangatttt! 😊

8 Comments on Kehamilan Plasenta Previa Totalis

  1. Lia Harahap
    May 9, 2021 at 6:04 pm (6 months ago)

    Semoga sehat-sehat terus ya, Zeilla dan calon dedek bayi

    Reply
  2. Melonster
    May 10, 2021 at 10:07 am (6 months ago)

    Semangaat zeee ❤️❤️

    Reply
  3. Ismi saadah
    May 24, 2021 at 12:47 am (5 months ago)

    Huuw, ibu sinna semoga sehat dan lancar sampai persalinan

    Reply

2Pingbacks & Trackbacks on Kehamilan Plasenta Previa Totalis

  1. […] Baca juga: Kehamilan Kedua Dengan Plasenta Previa Totalis […]

  2. […] Baca juga: Kehamilan Anak Kedua Dengan Plasenta Previa Totalis […]

Leave a reply to TIPS MEMILIH RS BERSALIN DAN DOKTER KANDUNGAN – Zeilla Mutia Devi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment *